Dijerat Hukum Kebiri Bikin Kapok Penjahat Seksual?

pengertian-hukum-dan-pengertian-sistem-hukum

Kasus kejahatan seksual dewasa ini kian memprihatinkan. Hampir di berbagai teritorial republik ini, ada kasus kejahatan seksual dari para “penjahat kelamin” dengan berbagai modus dan kisah-kisah tragis para korban.

Korbannya pun tidak melulu wanita dewasa. Anak-anak di bawah umur baik perempuan maupun laki-laki, tak jarang jadi bahan laporan di kepolisian. Kasus ini terus terjadi, lagi dan lagi. Apakah ancaman ganjarannya kurang bikin kapok alias jera?

Sebelumnya, hukuman bagi para predator seksual terhadap anak di negeri ini merujuk pada Undang-Undang (UU) No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hukuman terberatnya termaktub dalam pasal 8, di mana pelaku bisa dipenjara paling lama 10 tahun dan atau denda paling banyak Rp200 juta.

Dari logika saja, hukuman di UU No.23 itu takkan bikin takut “calon” pelaku. Namun pada Rabu (12/10/2016), DPR RI resmi mengesahkan Perppu No.1 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Hukumannya tertuang pada pasal 81, di mana pelaku paling ringan dihukum lima tahun penjara dan atau denda Rp5 miliar. Sementara yang paling berat, pelaku bisa dihukum penjara seumur hidup atau eksekusi mati.

Tapi yang menarik dari petikan pasal 76D, terdapat hukuman kebiri secara kimiawi. Hukuman lainnya yang tak kalah menarik disikapi, adalah hukuman penanaman cip pendeteksi dan penyebaran identitas. Yang satu ini, disebutkan berhasil menekan angka kejahatan seksual pada anak di beberapa negara, terutama Swedia.

Nah, kalau soal hukuman kebiri secara kimiawi, DPR RI bersikeras bahwa eksekutornya adalah dari pihak dokter, kendati Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak. Alasannya, hal itu bertentangan dengan Sumpah Hipocrates atau sumpah profesi kedokteran.

Di sisi lain, disahkannya regulasi hukuman kebiri ini oleh para legislator, dinilai Women Crisis Center (WCC), tak memberi jaminan bahwa angka kejahatan seksual bakal menurun.

Pelaku disebutkan WCC masih bisa mengelak dari hukuman itu. Contohnya dengan cara minta penyelesaian kekeluargaan dan mengawini korbannya.

“Intinya, tingginya angka kekerasan seksual salah satu pemicunya adalah masih tingginya budaya patriarki dan stigma bahwa korban adalah aib,” terang Manajer Program WCC Mawar Balqis Sa’adah.

sumber: okezone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s