Belajar Terlalu Keras Bisa Sebabkan Gegar Otak

Pelajar dan mahasiswa yang gegar otak bisa jadi karena berjuang lebih keras untuk urusan akademis ketimbang rekan mereka yang cidera akibat olahraga, demikian hasil studi kecil di AS. Peneliti mensurvei 70 pelajar yang mendapat perawatan darurat karena gegar otak dan 108 remaja dan dewasa muda yang dirawat karena cidera lain.

Dengan satu kali gegar otak, siswa rata-rata butuh 5,4 hari untuk kembali ke sekolah, sedangkan yang cidera lain butuh 2,8 hari, seperti dilansir VOA.

Sepekan setelah terluka, 42 persen siswa dengan gegar otak mendapat bantuan akademik, seperti les tambahan atau ujian dengan waktu ekstra, dibanding 25 persen dengan cidera lain. Sebulan kemudian, 31 persen kelompok gegar otak mendapat bantuan, juga 24 persen siswa lain.

“Setelah gegar otak, ada krisis energi di otak. Otak butuh lebih banyak energi untuk pulih dibanding energi yang tersedia,” kata penulis utama studi, Erin Wasserman dari University of North Carolina di Chapel Hill.

“Karenanya, gejala yang dialami tiap orang, seperti sakit kepala, sulit tidur, depresi, serta masalah konsentrasi dan mengingat,” ujar Wasserman, yang menyelesaikan studi di University of Rochester. “Seluruh gejala ini dikenal menyebabkan masalah di sekolah.”

Untuk menilai bagaimana gegar otak berdampak pada sekolah, Wasserman dan koleganya mensurvei atlet pelajar yang dirawat di tiga unit gawat darurat di Rochester, New York, sepanjang September 2013 hingga January 2015.

Mereka mengecualikan pelajar yang mendatangi ke unit gawat darurat lebih dari 24 jam setelah cidera atau yang terluka parah hingga perlu masuk rumah sakit.

Bagi kelompok pembanding tanpa gegar otak, peneliti hanya memasukkan atlet dengan cidera ekstrem yang diisolasi, seperti patah lengan di satu lokasi. Pelajar yang gegar otak dikecualikan jika pindai otak menunjukkan lesi intrakranial akut, atau jaringan rusak parah.

Peneliti bertanya tentang gejala dan aktivitas sekolah sepekan dan sebulan sesudah cidera. Pertanyaannya, antara lain, kemampuan konsentrasi mereka, kemampuan mengerjakan ujian dengan lancar, serta gejala seperti sakit kepala. Rentang skor dari 0 sampai 174 dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kesulitan akademis yang lebih parah.

Dalam satu pekan, 83 persen pelajar yang gegar otak melaporkan gangguan setidaknya di area yang tidak mereka alami sebelum cidera, demikian pula 60 persen pelajar dengan cidera ekstrem, demikian laporan peneliti di American Journal of Public Health.

Dalam satu pekan, pelajar yang gegar otak memiliki skor disfungsi akademik 15  poin lebih tinggi dibanding rata-rata rekan mereka dengan cidera lain masing-masing di 63 dan 48. Setelah satu bulan, skor mereka sama: 42 dengan gegar otak dan 40 dengan cidera lain.

Keterbatasan studi ini adalah 24 persen pelajar yang gegar otak dan belum kembali ke sekolah dalam satu pekan dari cidera, mereka dikecualikan dari analisis.
Hal itu berarti hanya pelajar dengan cidera kecil atau efek ringan setelah gegar otak yang dimasukkan.

Karena gegar otak, pelajar bisa punya masalah penglihatan atau kesulitan dengan gerakan mata yang berefek pada kegiatan akademis, kata Anthony Kontos, direktur peneliti gegar otak di program kedokteran olahraga University of Pittsburgh Medical Center.

“Sejumlah pelajar bisa jadi mengalami kesulitan menggeser pandangan dari dekat ke jauh, seperti dari buku pelajaran ke papan tulis, setelah gegar otak,” kata Kontos, yang tidak terlibat dalam studi.

Dengan potensi masalah penglihatan dan konsentrasi, demikian pula gejala seperti sakit kepala dan pening yang mempersulit sekolah, dokter menyarankan pelajar sering beristirahat dan berhenti bekerja sebelum gejala jadi memburuk, kata Dr. John Leddy direktur medis klinik manajemen gegar otak di University at Buffalo.

“Kita tidak tahu pasti apa penyebab kesulitan konsentrasi dan ingatan di sekolah, kecuali laporan umum bahwa intoleransi kognitif; yakni pelajar tak dapat mengerjakan tugas dalam periode berkelanjutan sebelum menjadi demikian kelelahan sehingga tak dapat memproses informasi baru,” ujar Leddy.

“Akademis cenderung mencerminkan masalah intoleransi kognitif karena ketidakefisienan setelah gegar otak,” imbuh Leddy.

sumber: CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s